Baca Juga
![]() |
| Foto Kebersamaan Para Pemateri dan Peserta Diskusi bedah buku de Republik Indonesia dilangsungkan di Sekretariat GMNI Jaksel, pada Selasa (9/12/2025) |
Institut Marhaenisme 27, Jakarta - Institut Marhaenisme 27 dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan kembali menunjukkan komitmennya sebagai ruang intelektual progresif dengan menggelar Bedah Buku “Naar de Republiek Indonesia” karya Airlangga Pribadi Kusman.
Melalui kegiatan ini, GMNI Jakarta Selatan berharap diskusi-diskusi pemikiran progresif terus digelorakan, demi memperkuat kesadaran sejarahh penting bangsa: Tan Malaka dan Ir. Soekarno.
Kegiatan tersebut menghadirkan langsung Airlangga Pribadi Kusman sebagai narasumber utama, dengan penanggap penulis sekaligus aktivis Bob Randilawe serta Aktivis GMNI, Bung Rauf.
Diskusi berlangsung hangat, kritis, dan menarik perhatian peserta yang ingin memahami kembali sejarah gagasan republik dan arah perjuangan nasional.
Dalam Buku itu, pemikiran Tan Malaka memberikan kontribusi besar bagi kesadaran kaum muda Indonesia atas perkembangan sosialisme dunia dan perjuangan melawan kolonialisme serta imperialisme.
Melalui gagasan republik, Tan Malaka menilai bentuk negara tersebut paling sesuai bagi Indonesia sebagai bangsa kepulauan yang beragam etnis, ras, dan agama.
Tidak hanya Tan Malaka, diskusi juga menyinggung pemikiran Soekarno dalam gagasannya mengenai “Partai Negara” pada awal kemerdekaan.
Meski akhirnya tidak berkembang, gagasan ini menunjukkan upaya Soekarno dalam merumuskan bentuk organisasi politik yang ideal bagi bangsa yang baru merdeka. Perubahan situasi politik melalui “Maklumat X” yang dikeluarkan Bung Hatta kemudian membuka ruang multipartai yang bertahan hingga kini.
Bob Randilawe dalam ulasannya menyarankan agar pembaca memahami konteks global saat Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia.
Pada masa itu, gerakan sosialisme internasional tengah mengalami fase transisi dan perpecahan, mulai dari Internasional I hingga munculnya Internasional II di Paris yang dipelopori Marx, Engels, Bernstein, hingga Lenin.
Revolusi Bolsyevik 1917 yang melahirkan Uni Soviet juga memengaruhi dinamika pemikiran Tan Malaka.
Meski dekat dengan dunia komunisme internasional, Tan Malaka kerap berbeda pandangan dengan kelompok komunis Hindia Belanda yang dipengaruhi Joseph Stalin.
Ia menolak pemberontakan PKI pada 1920-an maupun 1948, dan bahkan sempat terhubung dengan gerakan Comintern yang dekat dengan pemikiran Leon Trotsky.
Sementara itu, Airlangga menjelaskan, Tan Malaka tidak pernah secara terang-terangan menyebut dirinya sebagai pengikut Trotsky, karena ia memiliki cita-cita membangun negara Republik Indonesia.
“Tan Malaka tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Trotskyis. Ia tetap berpijak pada cita-cita membangun Republik Indonesia,” jelas Airlangga.
Karena sikapnya yang tegas dan konsisten, Airlangga menyebut banyak sejarawan menyebut Tan Malaka sebagai nasionalis radikal, sementara Soekarno pernah menjulukinya sebagai seorang “sosialis sepenuh-penuhnya”.
Salah satu fakta sejarah penting yang kembali mencuat dalam diskusi adalah testamen politik 1945, di mana Soekarno menunjuk Tan Malaka sebagai penerus kepemimpinan revolusi apabila dirinya dan Hatta tidak dapat lagi memimpin.
Dokumen ini menjadi bukti akan pengakuan Soekarno terhadap kapasitas dan integritas Tan Malaka dalam perjuangan nasional.
Melalui kegiatan ini, GMNI Jakarta Selatan berharap diskusi-diskusi pemikiran progresif terus digelorakan, demi memperkuat kesadaran sejarah dan ideologi generasi muda.

0 Komentar