Baca Juga
![]() |
| Deodatus Sunda Se, Direktur Eksekutif Institut Marhaenisme 27 |
Program
Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sering dipromosikan sebagai simbol
kedaulatan ekonomi maritim: desa nelayan yang modern, produktif, dan mampu menembus
pasar global melalui skema Ekspor Mandiri. Di atas kertas, ini tampak seperti
proyek emansipatoris; membebaskan nelayan dari tengkulak dan rantai distribusi
yang eksploitatif. Namun, jika ditelisik lebih dalam, program ini menyimpan
kontradiksi struktural yang serius: antara narasi kemandirian dan realitas
integrasi ke dalam sistem kapitalisme global yang timpang.
Jika dibaca melalui data empiris dari Badan Pusat Statitik (BPS), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), hingga kerangka global ala Food and Agriculture Organization (FAO), program ini justru menunjukkan kontradiksi mendasar: nelayan tidak dibebaskan, tetapi direstrukturisasi menjadi subjek pasar global yang lebih rentan dengan tanpa perlindungan.
Ekspor Naik,
Nelayan Tetap di Tempat
Data KKP
menunjukkan nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai USD 6,27 miliar pada tahun
2025 dengan kenaikan 5,2%. Komoditas utama seperti udang, tuna, dan cumi
mendominasi pasar global.
Namun
pertanyaannya:
Apakah
kenaikan ekspor berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan?
Indikator
kesejahteraan seperti Nilai Tukar Nelayan (NTN) hanya berada di kisaran ±104
(sedikit di atas titik impas). Artinya, di tengah gemuruh ekspor, nelayan hanya
bertahan hidup bukannya sejahtera. Mereka tetap bekerja keras di laut,
sementara nilai tambah justru mengalir ke industri pengolahan, eksportir, dan
pasar luar negeri.
Ini bukan
kontradiksi, justru ada beberapa penjelasan struktural di baliknya.
1. 1. Rantai distribusi panjang
Hasil
tangkapan nelayan biasanya melewati banyak perantara (tengkulak, pengepul,
eksportir). Nilai tambah terbesar sering terjadi di hilir (pengolahan, ekspor),
bukan di tangan nelayan.
2. 2. Nelayan kecil vs industri besar
Kenaikan
ekspor sering didorong oleh perusahaan besar (budidaya skala besar atau kapal
industri), bukan nelayan tradisional. Jadi pertumbuhan tidak merata.
3. 3. Harga di tingkat nelayan rendah
Walaupun
harga ekspor tinggi, harga beli dari nelayan bisa ditekan karena posisi tawar
mereka lemah.
4. 4. iaya operasional tinggi
BBM,
peralatan, dan cuaca membuat biaya melaut tinggi. Jadi pendapatan naik sedikit
atau bahkan stagnan.
5. 5. Minim akses teknologi & pasar
Banyak
nelayan belum terhubung langsung ke pasar ekspor atau teknologi penyimpanan (cold
storage), sehingga harus menjual cepat dengan harga murah.
6. 6. ebijakan belum tepat sasaran
Program
peningkatan ekspor belum tentu diikuti perlindungan harga, subsidi efektif,
atau akses modal untuk nelayan kecil.
Kesimpulannya,
Eskpor naik itu indikator makro. Tapi kesejahteraan nelayan adalah isu mikro
yang sangat dipengaruhi distribusi keuntungan, struktur pasar, dan kebijakan.
Bagi saya, di
sinilah letak persoalan utamanya: Dimana kita terlalu mudah menyamakan
pertumbuhan ekspor dengan kesejahteraan nelayan.
Nelayan
kecil, yang setiap hari menghadapi ombak, cuaca buruk, dan baiaya melaut yang
terus meningkat, justru tetap berada dalam posisi yang rapuh. Mereka menjual
hasil tangkapannya dengan harga yang tidak mereka tentukan sendiri. Mereka
tidak punya ruang untuk menahan ikan agar dijual saat harga membaik. Mereka
tidak punya akses langsung ke pasar yang lebih luas.
Sementara
itu, nilai terbesar dari ikan justru tercipta seteklah ia dilepas dari tangan
nelayan. Diolah, dibekukan, dikemas, lalu dikirim ke pasar global. Di titik
inilah keuntungan berlipat. Dan di titik ini pula nelayan tidak lagi hadir.
Menurut saya,
ini bukan sekedar masalah teknis atau kurangnya efisiensi. Ini Adalah masalah
struktural.
Rantai
distribusi yang panjang membuat nelayan hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Posisi tawar yang lemah membuat mereka tidak punya kendali atas harga. Dalam
situasi seperti ini, kenaikan harga di pasar global tidak otomatis mengalir ke
tingkat lokal.
Lebih jauh
lagi, kita juga perlu jujur melihat arah kebiajakan pemerintah. Selama ini,
fokus lebih banyak diberikan pada peningkatan produksi dan ekspor.
Infrastruktur besar dibangun, investasi didorong, industri diperkuat. Tetapi
perhatian terhadap nelayan kecilsering kali bersifat tambahan, bukan inti.
Akibatnya kita menyaksikan sesuatu yang kontradiktif: sektor perikanan tumbuh,
tetapi pelaku utamanya tertinggal.
Fenomena
“ekspor naik, nelayan tetap di tempat” di Indonesia dapat dipahami sebagai
hasil dari struktur ekonomi perikanan yang timpang dan terintegrasi dalam
logika kapitalisme global. Dalam kerangka pemikiran Karl Marx, terdapat
beberapa lapisan analisis yang saling terkait.
Pertama, terjadi
pemisahan antara produksi dan apropriasi nilai. Dalam teori Marx, setiap
komoditas mengandung nilai yang berasal dari kerja manusia (labor theory of
value). Nelayan, dalam konteks ini, adlah produsen nilai awal; mereka
menangkap ikan sebgai hasil keja konkret di laut.
Namun, nilai
yang mereka hasilkan tidak berhenti pada titik produksi. Ia bergerak dalam
sirkulasi komoditas.
Produksi → distribusi → pertukaran → konsumsi
Nelayan sebagai
produsen utama hanya berperan dalam tahap awal (penangkapan likan), sementara
nilai tambah terbesar tercipta dan dikuasai pada tahap distribusi, pengolahan,
dan ekspor. Ini menunjukkan bahwa nilai lebih (surplus value) tidak
berhenti pada produsen, tetapi berpindah ke actor yang menguasai rantai pasok.
Kedua, struktur rantai
komoditas menciptakan relasi ketergantungan yang sistematik. Nelayan tidak memiliki control atas harga,
akses pasar, maupun infrastruktur penyimpanan. Ketergantungan pada tengkulak
dan perantara bukan sekedar hubungan ekonomi biaa, tetapi mencerminkan relasi
kuasa yang membatasi kebebasan nelayan dalam menentukan kondisi pertukaran.
Dalam hal ini, nelayan berfungsi sebagai “produsen terikat” dalam sistem pasar
global yang lebih luas.
Ketiga, peningkatan ekspor
justru menandakan intensifikasi akumulasi kapital, bukan pemerataan
kesejahteraan. Ekspor yang naik menunjukkan bahwa sistem bekerja semakin
efisien dalam menegkstrasi dan merealisasikan nilai di pasar global. Namun
efisiensi ini tidak dinikmati secara merata, karena struktur kepemilikkan dan
kontrol tetap terkonsentrasi pada pelaku industri dan perdagangan.
Keempat, peran negara cenderung
memperkuat kondisi tersebut. Kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan
ekspor dan integrasi pasar global menunjukkan bahwa negara berfungsi sebagai
fasilitator akumulasi, bukan agen transformasi struktural. Intervensi terhadap
nelayan kecil bersifat terbatas dan tidak menyentuh akar persoalan, yaitu
ketimpingan dalam penguasaan rantai ekonomi.
Kelima, kondisi ini menghasilkan reproduksi kemiskinan struktural. Nelayan terus berada dalam posisi yang sama karena:
- Keterbatasan akses modal dan teknologi
- Keterikatan pada jaringan distribusi yang tidak adil
- Tekanan biaya produksi dan resiko ekologis
Dengan demikian,
kemiskinan nelayan bukan anomal, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang
ada.
Dalam konteks Indonesia:
- Produksi bersifat sosial (melibatkan nelayan dalam jumlah besar)
- Tetapi penguasaan nilai bersifat privat (terkonsentrasi pada sektor tertentu)
Selama nelayan tidak memilki kontrol atas:
- Distribusi
- Akses pasar
- Penentuan harga
Maka peningkatan
ekspor tidak akan secara otomatis meningkatkan kesejahteran mereka.
Oleh karena itu, solusi tidak dapat berhenti pada peningkatan produksi dan ekspor. Yang dibutuhkan adalah perubahan struktural dalam relasi ekonomi, terutama dalam hal:
- Distribusi nilai
- Penguasaan rantai pasok
- Posisi tawar nelayan
Tanpa perubahan tersebut, pertumbuhan hanya akan menjadi akumulasi tanpa keadilan, dan laut akan terus menjadi ruang produksi nilai yang tidak kembali kepada mereka yang paling dekat dengannya yaitu Nelayan.
Nelayan Sebagai
Proletariat Maritim
Sektor perikanan
Indonesia sering dipresentasikan sebagai tulang punggung ekonomi maritim
nasional. Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan potensi sumber daya
laut yang besar, Indonesia menempatkan perikanan sebagai sektor strategis dalam
pembangunan ekonomi. Namun, di balik narasi pertumbuhan produksi dan ekspor,
terdapat kontradiksi mendasar: mayoritas nelayan tetap hidup dalam kondisi
rentan dan miskin.
Menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di wilayah pesisir secara konsisten
lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Sementara itu, laporan Food and
Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa nelayan skala kecil secara
global menyumbang sekitar 40% dari total tangkapan ikan, tetapi hanya menikmati
sebagian kecil dari nilai ekonomi rantai pasok. Di Indonesia, data Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menegaskan bahwa lebih dari 90% pelaku usaha
perikanan adalah nelayan kecil dengan keterbatasan akses modal, teknologi, dan
pasar.
Dalam pemikiran Karl
Marx, proletariat adalah kelas yang tidak memiliki alat produksi dan bergantung
pada penjualan tenaga kerja. Dalam konteks maritim, konsep ini mengalami
perluasan: nelayan tidak selalu sepenuhnya kehilangan alat produksi, tetapi
sering kali tidak memiliki kontrol efektif atasnya.
Banyak nelayan kecil
memang memiliki perahu atau alat tangkap sederhana, namun ketergantungan
terhadap pemilik modal—baik dalam bentuk kredit, distribusi, maupun akses
pasar—menempatkan mereka dalam posisi subordinat. Dengan demikian, mereka lebih
tepat disebut sebagai semi-proletariat, sementara buruh nelayan (anak buah
kapal/ABK) merupakan proletariat maritim dalam arti penuh.
Secara klasik, dalam
perspektif Marxisme, proletariat adalah mereka yang tidak memiliki alat
produksi dan hanya bisa menjual tenaga kerjanya untuk bertahan hidup. Jika kita
tarik ke sektor laut, nelayan kecil sering kali tidak benar-benar menguasai
alat produksi utama: kapal, mesin, teknologi tangkap, hingga akses pasar.
Banyak dari mereka bergantung pada pemilik modal—pemilik kapal besar,
tengkulak, perusahaan eksportir, bahkan korporasi perikanan. Di sinilah nelayan
menjelma menjadi “proletariat maritim”: bekerja di laut, tetapi tidak berdaulat
atas hasil produksinya.
Relasi eksploitasi ini
tampak dalam beberapa bentuk. Pertama, sistem ijon atau tengkulak yang mengikat
nelayan dalam utang struktural. Nelayan dipaksa menjual hasil tangkapannya
dengan harga murah, jauh di bawah harga pasar ekspor. Kedua, integrasi dalam
rantai pasok global yang dikendalikan korporasi besar. Ketika permintaan ekspor
meningkat, keuntungan utama justru mengalir ke perusahaan logistik, eksportir,
dan industri pengolahan—bukan ke nelayan sebagai produsen utama. Ketiga,
kebijakan negara yang sering lebih berpihak pada industrialisasi perikanan
(kapal besar, investasi asing, proyek strategis) daripada penguatan nelayan
kecil.
Dalam kondisi ini,
laut yang seharusnya menjadi ruang hidup berubah menjadi arena akumulasi
kapital. Apa yang oleh Karl Marx disebut sebagai “primitive accumulation” juga
bisa dibaca dalam konteks maritim: perampasan ruang tangkap melalui zonasi,
privatisasi pesisir, reklamasi, hingga proyek industri. Nelayan kehilangan
akses, lalu terdorong menjadi buruh di sektor yang dulu mereka kuasai secara
komunal.
Namun, ada satu hal penting: tidak semua nelayan otomatis proletariat. Nelayan pemilik kapal besar yang mempekerjakan awak kapal justru lebih dekat dengan kelas borjuasi maritim. Karena itu, penting membedakan antara:
- Nelayan kecil/tradisional → cenderung proletariat atau semi-proletariat
- Buruh nelayan (ABK) → proletariat maritim murni
- Pemilik kapal besar → borjuasi maritim
Dari sini, istilah
“proletariat maritim” bukan sekadar label, tapi alat analisis untuk melihat
konflik kelas di laut. Ia membantu menjelaskan kenapa kemiskinan nelayan tetap
bertahan meski produksi dan ekspor perikanan meningkat. Ini bukan semata soal
“kurang modern” atau “kurang efisien”, tetapi soal struktur ekonomi yang
timpang.
Secara politik, memahami nelayan sebagai proletariat maritim membuka kemungkinan perjuangan yang berbeda: bukan hanya bantuan sosial atau subsidi, tetapi transformasi relasi produksi—akses terhadap alat tangkap, koperasi yang benar-benar kolektif, kedaulatan pasar, hingga kontrol atas wilayah tangkap. Dalam bahasa yang lebih radikal, ini adalah perjuangan untuk merebut kembali laut dari dominasi kapital dan mengembalikannya sebagai ruang hidup bersama
1. Struktur Ekonomi Perikanan dan Ketimpangan Nilai
Data Food and
Agriculture Organization menegaskan bahwa rantai nilai perikanan global
didominasi oleh sektor hilir: pengolahan, distribusi, dan ekspor. Nilai tambah
terbesar tidak dihasilkan di titik produksi (penangkapan), tetapi pada tahap
pasca-panen.
Fenomena ini juga
terjadi di Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan,
nilai ekspor perikanan Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, peningkatan ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan. Harga
ikan di tingkat nelayan sering berfluktuasi dan cenderung rendah, sementara
margin keuntungan membesar di tingkat eksportir dan industri pengolahan.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Nilai Tukar Nelayan (NTN)—indikator daya beli nelayan—sering berada di sekitar atau bahkan di bawah angka 100, yang berarti pendapatan nelayan hanya cukup untuk menutup biaya produksi dan konsumsi dasar. Ini menunjukkan posisi tawar nelayan yang lemah dalam struktur pasar.
2. Relasi Produksi: Dari Tengkulak hingga Korporasi
Eksploitasi dalam
sektor perikanan tidak selalu berbentuk hubungan kerja formal, tetapi sering
hadir melalui mekanisme yang lebih kompleks. Sistem tengkulak menjadi salah
satu contoh utama. Nelayan yang membutuhkan modal untuk melaut terpaksa
meminjam dari tengkulak dengan syarat menjual hasil tangkapannya dengan harga
yang telah ditentukan.
Dalam perspektif
Marxisme, mekanisme ini merupakan bentuk ekstraksi nilai lebih (surplus value)
yang terselubung. Nelayan secara formal tampak sebagai produsen mandiri, tetapi
secara struktural terikat dalam relasi eksploitasi.
Lebih jauh, integrasi sektor perikanan ke dalam pasar global memperkuat posisi korporasi besar. Perusahaan eksportir dan industri pengolahan memiliki akses terhadap teknologi, logistik, dan jaringan internasional, yang memungkinkan mereka mengendalikan harga dan standar produksi. Nelayan kecil, sebaliknya, hanya menjadi pemasok bahan mentah dengan daya tawar minimal.
3. Negara dan Politik Pembangunan Maritim
Peran negara dalam
sektor perikanan sering kali ambivalen. Di satu sisi, pemerintah melalui
Kementerian Kelautan dan Perikanan menjalankan berbagai program bantuan:
subsidi bahan bakar, bantuan alat tangkap, hingga program kampung nelayan.
Namun, di sisi lain, kebijakan pembangunan sering lebih berpihak pada
industrialisasi perikanan.
Program peningkatan
ekspor, investasi asing, dan pengembangan industri pengolahan skala besar
menunjukkan orientasi negara pada pertumbuhan ekonomi berbasis kapital. Dalam
kerangka ini, nelayan kecil cenderung diposisikan sebagai pelengkap, bukan
subjek utama pembangunan.
Konsep “ekonomi biru”
yang didorong secara global, termasuk oleh Food and Agriculture Organization,
sering kali juga dikritik karena berpotensi menjadi legitimasi baru bagi
eksploitasi sumber daya laut jika tidak disertai dengan keadilan sosial.
Berdasarkan analisis di atas, nelayan kecil dan buruh nelayan dapat dipahami sebagai proletariat maritim karena beberapa alasan:
- Keterbatasan kontrol atas alat produksi, ketergantungan pada modal eksternal mengurangi kemandirian nelayan.
- Posisi lemah dalam rantai nilai, nilai tambah utama dinikmati oleh aktor di luar sektor produksi.
- Eksploitasi melalui mekanisme pasar, harga yang tidak adil dan sistem utang memperkuat subordinasi.
- Marginalisasi dalam kebijakan negara, orientasi pembangunan cenderung menguntungkan kapital besar.
Dalam istilah Karl Marx, kondisi ini mencerminkan alienasi: nelayan terpisah dari hasil kerjanya, dari alat produksinya, bahkan dari ruang hidupnya sendiri.
4. Menuju Politik Pembebasan Maritim
Jika masalahnya adalah struktural, maka solusinya tidak bisa sekadar teknokratis. Bantuan alat tangkap, subsidi, atau pelatihan tidak akan mengubah posisi nelayan selama relasi produksinya tetap sama.
Yang dibutuhkan adalah politik pembebasan maritim:
- Rebut kembali akses kolektif atas laut
- Hancurkan monopoli pasar oleh tengkulak dan korporasi
- Bangun koperasi sejati yang dikontrol nelayan, bukan elite lokal
- Paksa negara berpihak, atau hadapi negara sebagai bagian dari masalah
Dalam
semangat Marxisme, ini bukan sekadar reformasi, tetapi transformasi. Bukan
sekadar memperbaiki distribusi, tetapi menggugat struktur kepemilikan.
Karena pada
akhirnya, pertanyaannya sederhana:
apakah laut
akan menjadi ruang hidup bagi nelayan, atau hanya ladang akumulasi bagi
kapital?
Selama pertanyaan itu belum dijawab secara politik, nelayan akan tetap menjadi proletariat maritim—bekerja di atas kekayaan yang tidak pernah benar-benar mereka miliki.
Dari
Tengkulak Lokal ke Tengkulak Global
Di banyak
kampung pesisir Indonesia, nelayan kecil sering diajarkan satu cerita
optimistik: bahwa zaman tengkulak lokal sudah berlalu. Kini mereka
disebut-sebut “naik kelas”—terhubung ke pasar ekspor, masuk rantai dingin,
bahkan disebut bagian dari ekonomi biru. Negara dan korporasi menyebutnya
sebagai kemajuan.
Tapi
pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar naik kelas?
Dulu, nelayan
berhadapan dengan tengkulak di kampungnya sendiri. Ia meminjam modal, menjual
hasil tangkapan dengan harga yang sudah ditentukan, dan hidup dalam lingkaran
utang yang sulit diputus. Ini jelas relasi yang timpang. Dalam perspektif Karl
Marx, ini adalah bentuk penghisapan nilai lebih yang telanjang—langsung,
konkret, dan terasa. Namun setidaknya, musuh itu terlihat.
Hari ini,
tengkulak tidak lagi selalu duduk di pelabuhan kecil. Ia telah berevolusi
menjadi sesuatu yang jauh lebih besar—dan jauh lebih sulit dilawan. Ia hadir
dalam bentuk perusahaan eksportir, jaringan logistik global, dan pasar
internasional yang menentukan harga dari ribuan kilometer jauhnya. Ia tidak
lagi memanggil nelayan dengan nama, tetapi mengaturnya melalui standar
kualitas, kontrak, dan fluktuasi harga dunia.
Inilah
Tengkulak Global
Data dari
Food and Agriculture Organization berulang kali menunjukkan bahwa nilai ekspor
perikanan dunia terus meningkat. Indonesia pun bangga mencatat surplus. Tetapi
di tingkat paling bawah—di perahu-perahu kecil yang berangkat subuh dan pulang
dengan ketidakpastian—ceritanya berbeda. Harga di tangan nelayan sering
stagnan, bahkan tertekan oleh standar ekspor yang mereka sendiri tidak pernah
ikut menentukan. Di Sinilah Letak Ironi Pembangunan Kita.
Negara
berbicara tentang “akses pasar global”, tetapi lupa bahwa akses tanpa kekuasaan
hanyalah bentuk baru dari ketergantungan. Nelayan memang tidak lagi selalu
berutang pada tengkulak lokal, tetapi kini mereka bergantung pada harga yang ditentukan
oleh pembeli luar negeri, pada standar yang dibuat oleh korporasi
internasional, dan pada sistem distribusi yang sepenuhnya berada di luar
kendali mereka. Jika dulu ketergantungan itu bersifat personal, kini ia menjadi
struktural.
Dan seperti
semua struktur dalam kapitalisme, ia bekerja dengan cara yang lebih halus namun
lebih dalam. Tidak ada lagi wajah yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Tidak
ada lagi negosiasi berbasis kedekatan sosial. Yang ada hanyalah angka—harga
global, biaya logistik, standar mutu—yang secara sistematis menekan posisi
tawar nelayan.
Inilah yang
dalam tradisi Marxis disebut sebagai fetisisme komoditas: hubungan sosial
antara manusia disembunyikan di balik hubungan antar barang dan harga. Nelayan
tidak lagi merasa dieksploitasi oleh seseorang, tetapi oleh “pasar”. Padahal
pasar itu sendiri adalah konstruksi kekuasaan.
Eksploitasi
Tidak Hilang. Ia Hanya Naik Kelas
Narasi resmi akan mengatakan: ekspor meningkat, devisa bertambah, sektor perikanan tumbuh. Semua terdengar benar—di atas kertas. Tetapi angka-angka itu sering menutupi satu fakta mendasar:
- Nelayan tetap berada di posisi paling bawah dalam rantai nilai
- Mereka menangkap ikan, tetapi tidak menguasai harga
- Mereka bekerja keras, tetapi tidak menentukan pasar
- Mereka disebut bagian dari ekonomi global, tetapi tidak pernah menjadi pengendali di dalamnya
Lebih parah lagi, modernisasi ini sering menghancurkan mekanisme lokal yang dulu, meski eksploitatif, masih menyisakan ruang negosiasi. Tengkulak lokal bisa ditekan, dilawan, bahkan dipermalukan secara sosial. Tengkulak global? Ia beroperasi di balik kontrak, algoritma, dan sistem perdagangan internasional. Ia tidak bisa diprotes di pelabuhan desa.
Dengan kata
lain: dulu nelayan tahu siapa yang menindasnya. Sekarang, penindasan itu
menjadi sistem yang tak kasat mata.
Kita sedang
menyaksikan transformasi yang berbahaya—dari eksploitasi yang kasar menjadi
eksploitasi yang dilembagakan. Dari ketergantungan yang sempit menjadi
ketergantungan yang mengglobal. Dari tengkulak yang bisa dilawan menjadi
struktur yang hampir mustahil disentuh.
Dan semua ini
dijual dengan satu kata: modernisasi.
Pertanyaannya,
modernisasi untuk siapa?
Jika nelayan
tetap tidak berdaulat atas alat produksi, distribusi, dan pasar, maka semua
jargon tentang ekonomi biru, hilirisasi, dan ekspor mandiri hanyalah kosmetik.
Ia memperindah wajah sistem yang pada dasarnya masih sama: mengalirkan nilai
dari kerja nelayan kecil ke akumulasi kapital yang lebih besar.
Mungkin sudah
saatnya kita berhenti merayakan integrasi ke pasar global sebagai kemenangan.
Karena tanpa perubahan struktur kepemilikan dan kontrol, integrasi itu hanyalah
bentuk baru dari penjajahan ekonomi.
Dari
tengkulak lokal ke tengkulak global bukanlah cerita tentang kemajuan.
Ia adalah cerita tentang bagaimana eksploitasi belajar beradaptasi dan menjadi semakin sempurna.
Negara Jadi
Sales, Bukan Pelindung Nelayan
Dalam logika
yang pernah dibongkar oleh Karl Marx, negara bukan sekadar pengatur, tetapi
bisa menjadi alat kepentingan ekonomi dominan. Hari ini, itu terlihat jelas
dalam sektor kelautan: negara tidak lagi berdiri sebagai pelindung nelayan,
melainkan sebagai promotor investasi, eksportir sumber daya, dan fasilitator
industri besar.
Dalam
kerangka kritik ekonomi politik yang pernah dirumuskan oleh Karl Marx, relasi
produksi dalam kapitalisme selalu ditandai oleh ketimpangan: ada yang menguasai
alat produksi dan distribusi, dan ada yang hanya menjual tenaga serta hasil
kerjanya. Dalam konteks nelayan, alat produksi bukan hanya perahu dan jaring,
tetapi juga akses ke pasar, informasi harga, teknologi pengolahan, hingga
logistik rantai dingin (cold chain). Di sinilah letak persoalan
mendasarnya: ekspor mandiri tidak otomatis mengubah struktur penguasaan
tersebut.
Secara konseptual,
ekspor mandiri memang menawarkan jalan keluar dari ketergantungan pada
tengkulak lokal. Nelayan, melalui koperasi seperti KNMP, diharapkan dapat
menjual langsung ke pasar internasional. Tetapi realitasnya jauh lebih
kompleks. Pasar global bukan ruang bebas yang netral—ia dikendalikan oleh
standar kualitas, sertifikasi, fluktuasi harga, dan jaringan distribusi yang
sebagian besar dikuasai oleh aktor-aktor besar: perusahaan multinasional,
importir, dan jaringan ritel global.
Akibatnya, meskipun
nelayan “langsung ekspor”, mereka tetap tidak menentukan harga. Mereka tetap
harus menyesuaikan diri dengan permintaan pasar luar negeri, memenuhi standar
yang sering kali mahal dan rumit, serta menanggung risiko produksi yang
tinggi—dari cuaca hingga biaya operasional. Sementara itu, nilai tambah
terbesar tetap berada di hilir: pengolahan, branding, dan distribusi global.
Di titik ini,
“kemandirian” menjadi problematis. Ia tidak lagi berarti kedaulatan, melainkan
sekadar perubahan jalur distribusi. Nelayan memang tidak lagi menjual ke
tengkulak desa, tetapi kini berhadapan langsung dengan “tengkulak
global”—struktur pasar internasional yang jauh lebih kuat dan tidak kasat mata.
Peran negara dalam situasi ini menjadi krusial—dan sekaligus problematik. Alih-alih hadir sebagai pelindung yang mengoreksi ketimpangan struktur, negara justru tampil sebagai fasilitator integrasi ke pasar global. Negara:
- Mendorong ekspor sebagai indikator utama keberhasilan
- Memfasilitasi sertifikasi dan standardisasi global
- Membuka akses investasi di sektor kelautan
- Menjadikan knmp sebagai simbol keberhasilan kebijakan
KNMP kemudian
berfungsi sebagai etalase—sebuah contoh yang dipamerkan bahwa negara telah
“berpihak” pada nelayan. Tetapi di balik itu, fungsi negara tidak berubah
secara fundamental. Negara tidak mengintervensi struktur harga global, tidak
menguasai rantai distribusi, dan tidak membangun sistem perlindungan yang kuat
bagi nelayan kecil.
Sebaliknya, negara justru berperan sebagai sales:
- Menjual komoditas laut Indonesia ke pasar internasional
- Memastikan kontinuitas suplai bagi kebutuhan global
- Menyesuaikan kebijakan domestik dengan logika pasar
Dalam
kerangka ekonomi biru, semua ini dibungkus dengan bahasa yang terdengar
progresif: keberlanjutan, inklusi, efisiensi. Namun pada praktiknya, ekonomi
biru sering kali hanya menjadi wajah baru dari kapitalisme maritim. Laut tetap
diposisikan sebagai sumber daya yang harus dioptimalkan untuk pertumbuhan
ekonomi, bukan sebagai ruang hidup yang harus dilindungi demi keadilan sosial.
Kontradiksi ini terlihat jelas di lapangan. Nelayan kecil:
- Menghadapi kenaikan biaya produksi (BBM, alat tangkap)
- Harus memenuhi standar ekspor yang mahal
- Tetap memiliki posisi tawar yang lemah
Sementara itu:
- Perusahaan besar menguasai pengolahan dan distribusi
- Pasar global menentukan harga
- Negara lebih fokus pada peningkatan devisa daripada kesejahteraan nelayan
Ekspor
meningkat, tetapi kehidupan nelayan tidak banyak berubah. Ini bukan anomali—ini
adalah konsekuensi logis dari sistem yang menempatkan pasar sebagai pusat.
Dalam konteks
ini, ekspor mandiri KNMP berisiko menjadi ilusi kemandirian. Ia memberi kesan
bahwa nelayan telah naik kelas, padahal posisi struktural mereka tidak banyak
berubah. Mereka tetap menjadi pemasok bahan mentah dalam rantai nilai
global—dengan risiko tinggi dan keuntungan terbatas.
Lebih jauh
lagi, jika tidak diimbangi dengan transformasi struktural, program ini justru
bisa memperdalam integrasi nelayan ke dalam sistem yang eksploitatif. Ketika
nelayan didorong untuk terus memenuhi permintaan ekspor, orientasi produksi
berubah: bukan lagi untuk kebutuhan lokal atau kedaulatan pangan, melainkan
untuk pasar global. Ketergantungan pun bergeser—dari tengkulak lokal ke
fluktuasi pasar internasional.
Di sinilah
kritik “negara jadi sales” menemukan relevansinya yang paling konkret. Negara
tidak lagi berdiri di depan rakyat sebagai pelindung, tetapi berdiri di depan
pasar sebagai perantara. Ia memastikan bahwa komoditas laut Indonesia—yang
dihasilkan oleh kerja keras nelayan—dapat mengalir lancar ke pasar global.
Sementara itu, pertanyaan paling mendasar justru tidak dijawab:
- Apakah nelayan benar-benar berdaulat atas hasil tangkapnya?
- Apakah mereka memiliki kontrol atas harga dan distribusi?
- Apakah kesejahteraan mereka meningkat secara signifikan?
Jika
jawabannya masih “tidak”, maka seluruh narasi kemandirian perlu dipertanyakan
ulang.
Kedaulatan nelayan tidak bisa direduksi menjadi akses ke pasar ekspor. Ia harus mencakup:
- Kontrol atas rantai produksi dan distribusi
- Perlindungan dari fluktuasi harga global
- Penguatan kelembagaan kolektif yang benar-benar otonom
- Intervensi negara yang berpihak pada keadilan sosial, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi
Tanpa itu
semua, ekspor mandiri hanya akan menjadi strategi adaptasi dalam sistem yang
sama—bukan jalan keluar darinya.
Maka, dalam
lanskap ekonomi biru saat ini, kita perlu jujur melihat kenyataan:
KNMP bisa
menjadi alat emansipasi, tetapi juga bisa menjadi alat integrasi.
Dan selama
negara masih berfungsi sebagai sales bukan pelindung, maka yang lebih mungkin
terjadi adalah yang kedua.
Nelayan tetap
bekerja
Laut tetap dieksploitasi.
Ekspor terus meningkat.
Tetapi kedaulatan tetap menjadi janji yang terus dijual, tanpa pernah benar-benar diwujudkan.
Penulis: Deodatus Sunda Se, Direktur Eksekutif Institut Marhaenisme 27

0 Komentar