Prabowo-Teddy dan "Penyimpangan" yang Menyejarah

Baca Juga



 


Kisah terkenal yang menggambarkan tentang kesetiaan sesama jenis persahabatan bisa kita temukan dalam membaca riwayat hidup, Marx dan Engels, Fidel dan Che Guevara, atau Prabowo dan… Teddy Indra Wijaya. Yang menarik bukanlah apa yang terjadi di antara mereka, melainkan dampak dari hubungan tersebut; relasi kuasa; dan bagaimana publik menafsirkan apa yang mereka lihat. Sebab orang-orang terdekat kita, terutama mereka yang punya tempat tersendiri di hati kita, sangat memengaruhi, dan tak jarang menentukan bagaimana kita bertindak. Seorang kapitalis seperti Engels, secara sadar membiayai kehidupan pribadi dan karir Marx—belahan jiwa dan intelektualnya—yang terang-terangan menentang sistem ekonomi dan corak produksi kapitalisme. Tanpa Engels dan modalnya, Marx barangkali lebih memilih menjadi buruh untuk bertahan hidup di Dean Street, dibanding menulis buku yang kelak menggerakkan kaum revolusioner seluruh dunia.

Kedekatan Che dan Fidel terjalin dalam situasi yang lebih revolusioner ketika bergerilya dari Sierra Maestra menuju Havana yang berhasil menumbangkan Batista dan mengubah sejarah Kuba selamanya. Sampai hari ini Che dan Fidel menjadi simbol dari “duet revolusioner” paling ikonik dalam sejarah politik modern. Sementara itu, pada ruang dan waktu yang sangat tidak revolusioner, bahkan cenderung memalukan, ada Prabowo dan Teddy, yang kedekatannya melebihi kisah Roosevelt dan Hopkins yang selama era Great Depression dan program New Deal, menjadi orang paling berpengaruh dan terdekat Roosevelt. Meski Hopkins memimpin berbagai jabatan publik karena kedekatan dan akses langsung ke presiden, menurut banyak sejarawan, hubungan Roosevelt dan Hopkins berlangsung dalam situasi perang di mana ia berfungsi sebagai perpanjangan tangan presiden dalam situasi krisis.

Sementara hubungan Prabowo-Teddy tidak tampak seperti kedekatan biasa dan melampaui urusan jabatan. Juga bukan dalam masa krisis seperti yang dilewati Roosevelt-Hopkins. Kedekatan itu membawanya dari seorang ajudan dan perwira aktif, menjadi Sekretaris Kabinet (Seskab). Pangkatnya naik secara signifikan. Ia menentukan siapa yang masuk, informasi apa yang sampai, persoalan mana yang layak mendapat perhatian presiden, dan senantiasa mendampingi Prabowo dalam acara resmi maupun tak. Dalam beberapa hal, mereka berdua memiliki persamaan; karir yang dimulai dari militer dan sama-sama di Kopassus, mengabdi di pemerintahan, berdarah Manado, dan juga sama-sama ‘duda’. Beberapa peristiwa juga menunjukkan gestur berlebihan yang menurut pandangan publik, kontradiktif dengan perawakan tentara pada umumnya, yang membuat spekulasi dan narasi politik kian berkembang mengenai “hubungan khusus” di antara mereka. Dari sana, kemudian muncul sebutan “Tedi boti”, “Buna Teddy”, “Ibu Negara”, dan sederet lelucon lain yang mengarah pada dugaan orientasi seksual tertentu.

Kalau hubungan Marx-Engels melahirkan pemikiran yang kelak menggerakkan revolusi dan mengubah arus sejarah, Fidel-Che yang memerdekakan Kuba, Prabowo-Teddy hanya melahirkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sebuah program bermasalah yang menjadi ladang korupsi.

Narasi dan spekulasi terhadap hubungan mereka tidak lahir dari ruang hampa. Prabowo dan Teddy memang menunjukkan dugaan sebuah ikatan spesial. Ia kerap memuji Teddy dalam pidato-pidatonya. Pun di sela-sela kunjungan kenegaraan yang padat di Eropa dan bertepatan dengan ulang tahun yang ke-37 Seskab Teddy (14/04/26), Presiden Prabowo Subianto memberikan kejutan dan merayakannya di Four Seasons Hotel George V, yang terletak di jantung kota Paris dengan biaya ratusan juta rupiah permalam. Paris! Adakah kota yang lebih baik untuk merayakan perasaan, selain kota itu? Kota yang meninggalkan kenangan mendalam bagi orang yang pernah hidup atau sekedar berkunjung, seperti yang diungkapkan Hemingway: “There are only two place in the world where we can live happy—at home, and in Paris.” Tetapi perayaan itu disesaki ironi di mana kondisi negara dalam tekanan ekonomi.

Kejadian tersebut tidak hanya menguatkan dugaan khalayak, tetapi juga menunjukkan betapa kekuasaan sangat tidak bermoral. Saat Dino Patti Djalal, seorang diplomat senior dengan pengalaman diplomasi puluhan tahun, melakukan kritik terhadap kunjungan luar negeri yang terus membebankan anggaran negara, Teddy kemudian menanggapinya dengan narasi yang terkesan meremehkan dan keluar dari konteks yang digugat. Ini bukan kali pertama Teddy menanggapi kritik dengan jawaban yang tak pantas keluar dari mulut seorang pejabat negara yang seharusnya bertanggungjawab terhadap rakyat dengan mengedepankan prinsip transparansi.  Prabowo justru memilih bungkam di tengah kritik yang bertebaran. Belakangan, dalam situasi protes dan demonstrasi yang terus meningkat, Teddy justru mengunggah pertemuannya dengan Hercules—seorang  preman yang memilik akses kekuasaan karena jejak kekerasan di jalanan, yang dinilai sengaja—untuk mengintimidasi gerakan rakyat.

Kedekatan Teddy dan Prabowo juga berpotensi memicu konflik internal TNI, karena akses dan pengaruhnya terhadap keputusan presiden yang bisa membela kepentingan kroni-kroninya di tubuh militer, selain isu orientasi seksual. Amin Rais, bahkan secara terang-terangan menuduh Teddy sebagai penyuka sesama jenis (gay) dan menyamakannya dengan kaum Nabi Luth. Tak ada klarifikasi terhadap pernyataan Amin Rais. Tetapi ketika menjelang Hari Raya Kurban, seekor sapi yang bertuliskan TIW dikirim ke masjid terdekat rumah dari Amin Rais yang diduga kuat berasal dari Teddy.

‘Penyimpangan’ Dalam Peradaban Kita

Sejarah peradaban Islam pernah mencatat salah satu murka Allah paling dahsyat yang dikisahkan dalam Quran adalah tentang pemusnahan kaum Nabi Luth. Mereka diazab Allah karena melakukan praktik homoseksual. Menurut kitab Perjanjian Lama, kaum Nabi Luth ini tinggal di sebuah kota bernama Sodom. Sehingga karena itu praktik homoseksual saat ini kerap disebut juga sodomi. Penelitian arkeologis mendapatkan keterangan, kota Sodom semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth) yang terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati. Larangan ini pun ditegaskan salah satunya dalam QS. Asy-Syu‘ara ayat 165–166: “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang telah diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Lakon dalam kebudayaan Indonesia juga pernah mencatat adegan “penyimpangan” dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit 1647 yang mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakak angkatnya sendiri) karena merasa belum memperoleh “wangsit keraton”. Yang mencengangkan, Puger menghisap sperma ketika Amangkurat II itu sendiri sudah menjadi mayat. Tentu saja bahwa babad bukanlah sejarah yang serta-merta bisa menjadi rujukan ilmiah, karena hasil campuran fiksi dan kenyataan. Tetapi dari sana, muncul sebuah imajinasi bagaimana legitimasi kekuasaan bisa diperoleh.

Sementara dalam dunia militer Yunani kuno, relasi sesama jenis juga menempati ruang yang cukup penting dalam kehidupan berbagai negara-kota (polis) Yunani. Ia hadir bukan sekadar sebagai hubungan personal, tetapi dalam beberapa konteks menjadi bagian dari dinamika sosial dan kebudayaan prajurit, bahkan dipandang mampu memperkuat ikatan batin, loyalitas, serta membangkitkan keberanian di medan perang. Salah satu contoh yang paling sering disebut adalah Pasukan Suci Thebes (Sacred Band of Thebes), sebuah kesatuan elite yang dipercaya tersusun atas pasangan-pasangan sesama jenis yang diikat oleh kedekatan emosional dan komitmen bersama. Namun, jejak hubungan semacam ini juga kerap dikaitkan dengan tradisi kepahlawanan militer Sparta, di mana ikatan afektif antarprajurit dianggap memiliki peran dalam membentuk solidaritas dan kesetiaan yang kuat. Berbagai catatan dari dunia Yunani kuno menggambarkan keberanian para prajurit dalam pertempuran, sekaligus menafsirkan bahwa sebagian tindakan heroik tersebut lahir dari ikatan kasih, kedekatan emosional, dan hubungan homoerotik yang terjalin di antara mereka (Hanson: 124).

Foucault melihat seksualitas bukan semata-mata sebagai sesuatu yang bersifat biologis atau pribadi, melainkan sebagai sesuatu yang dibentuk oleh sejarah, institusi, wacana, dan relasi kuasa. Dalam The History of Sexuality, Foucoult menyebut bahwa masyarakat modern tidak hanya “menekan” seksualitas, melainkan menciptakan kategori-kategori seperti “normal” dan “menyimpang”, termasuk bagaimana kategori seksual dibentuk secara historis melalui ilmu, hukum, agama, dan politik. Sebab itu, “pasangan sah”, menurut Foucoult, “dengan seksualitasnya yang wajar, boleh menikmati lebih banyak privasi. Pasangan itu,  cenderung berfungsi sebagai suatu norma, yang mungkin lebih tegas, namun lebih diam-diam. Sebaliknya, yang lebih dipertanyakan bagaimana kenikmatan mereka yang tidak menyukai jenis kelamin lawannya; bagaimana impian, obsesi, kelatahan atau amukan.”

Oleh sebab itu, di negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, Afghanistan, Nigeria, Uganda, Yemen, Malaysia, hubungan sesama jenis bisa mendapatkan hukuman yang sangat berat, termasuk hukuman mati dalam kondisi tertentu. Sementara pembatasan secara politik dan hukum terkait aktivitas dan ekspresi LGBTQ berlangsung di negara-negara seperti Rusia, Hungaria, dan China. Sedangkan di Indonesia, tidak ada aturan yang ketat dan pasti yang dikategorikan sebagai tindak pidana, dan hanya berfokus pada perbuatan seksual tertentu, bukan pada orientasi seksualnya. Tetapi di sisi lain, tidak ada pengakuan hukum khusus untuk perlindungan LGBTQ, yang mana membuat isu ini berada dalam area sensitif di ruang publik.

Pengakuan

Bagi seorang tokoh atau pejabat publik, pengakuan tentang identitas seksual selalu membawa beban ganda: antara pertaruhan reputasi serta penghakiman masyarakat, dan upaya untuk mempertahankan kejujuran diri sendiri. Dalam sejarah, banyak dari mereka  memilih untuk berhenti hidup dalam tekanan dan berani menentang stigma; Pete Buttigieg, seorang politisi AS dan mantan menteri; Xavier Bettel, bekas Perdana Menteri Luksemburg; Jóhanna Sigurðardóttir, mantan Perdana Menteri Islandia; penulis Amerika, James Baldwin; filsuf Prancis, Michel Foucoult; musisi seperti Elton Jhon, Freddie Mercury, dan masih banyak lagi yang berani mengakui orientasi seksual mereka.

Beberapa dari kita, terutama yang meyakini ajaran agama dan “nilai-nilai ketimuran” barangkali menentang orientasi seksual yang dianggap “menyimpang”. Tapi pengakuan, sepahit apa pun, masih lebih baik dari pada kebohongan yang indah. Sebab itu negara perlu mengambil langkah untuk memastikan hal-hal yang dianggap tabu tak selamanya berada di ruang yang abu-abu. Dan barangkali, semua itu bisa dimulai dengan pengakuan dari Istana. Agar ada batas pasti antara normalisasi atau penghakiman terhadap ”botí”.

Penulis: Ahmad SM Kaffa            

 

 


0 Komentar